Kamis, 13 November 2014

7 Cara Mengetahui Kalau Lawan Bicaramu Bohong

7 Cara Mengetahui Kalau Lawan Bicaramu Bohong


1. Ketika berbohong, orang akan cenderung berbicara dengan kalimat baku

Para pembohong cenderung berbicara formal
Para pembohong cenderung berbicara formal via businesschic.com.au
Ini terutama berlaku untuk kebohongan-kebohongan besar, bukan kebohongan sepele seperti “Aku OTW ya!”. Struktur kalimat baku yang kaku akan memudahkan pembohong untuk berpikir sebelum merangkai kebohongannya. Sebaliknya, kita cenderung tak berhati-hati dalam bicara ketika kalimat kita santai dan lugas. Untuk menjadi pembohong ulung, orang harus berhati-hati, ‘kan?


2. Berlawanan dengan mitos, orang yang berbohong justru akan berusaha menjaga kontak mata dengan lawan bicara

Pembohong malah akan menatap matamu
Pembohong malah akan menatap matamu via www.huffingtonpost.com
“Liars won’t look at you in the face”, kata orang. Tapi menurut Pamela, pembohong ulung justru akan berusaha menjaga kontak mata. Dengan menatap lawan bicara, mereka berusaha agar tetap terlihat meyakinkan.
Namun tatapan orang yang berbohong akan terasa “tidak wajar”. Misalnya, mereka akan menatap lawan bicaranya terlalu lama. “They overcompensate,” kata Pamela.


3. Pembohong punya kecenderungan menghilangkan unsur “aku” dalam ceritanya

how-to-see-right-through-a-liar
menghilangkan unsur aku di dalam cerita via www.geckoandfly.com
Ketika berbohong, kita akan cenderung “menjauhkan diri” dari kebohongan yang kita utarakan. Maksudnya, kita akan berusaha menceritakan kebohongan itu tanpa memasukkan unsur “aku” ke dalam cerita. Kita akan berusaha untuk menggeser fokus cerita ke orang lain. Ini karena berbohong membuat kita tidak nyaman, sehingga ironisnya, kita berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengasosiasikan diri dengan cerita kita sendiri.
Contoh:
“Kemarin aku nggak ikut anak-anak ke mall, kok. Aku di rumah, belajar.” (jujur)
“Kemarin anak-anak nggak ada yang pergi ke mall, kok. Soalnya banyak PR, harus di rumah.” (bohong)

4. Karena alam bawah sadar mereka merasa bersalah, pembohong juga cenderung berbicara dengan nada negatif

Mereka akan merasa bersalah, lalu menjadi negatif
Mereka akan merasa bersalah, lalu menjadi negatif via www.huffingtonpost.com
Pernahkah kamu mematikan HP karena malas dihubungi seseorang? Ketika orang itu bertanya kenapa dia tak bisa menghubungimu, kamu pun berbohong. Karena merasa bersalah, kamu jadi merasa perlu ikut menyampaikan bahwa kamu kesal.
“Sori ya kemarin nggak bisa ditelepon, baterai HP-ku mati. Bateraiku emang boros banget, ngeselin.”


5. Kalimat para pembohong sering berputar-putar dan dibumbui detail tak penting

Pembohong akan berputar-putar dalam bicara
Pembohong akan berputar-putar dalam bicara via static1.businessinsider.com
Ketika seseorang berkata jujur, dia tak akan kesulitan untuk bicara dengan langsung dan jelas. Sebaliknya, orang yang tak jujur akan ngobrol ngarol-ngidul. Kalimat yang seharusnya sederhana jadi penuh detail yang tak berhubungan dengan inti cerita.
Contoh:
“Sayang, udah sholat?”
“Udah nih Sayang, tadi anak-anak sekantor sholat di masjid kota kok. Ke masjidnya jalan kaki dari tempat rapat, hampir kehujanan. Terus bacaan surat Imamnya panjang banget — surat apa tuh Yang, yang dibaca kalo ada orang meninggal itu lho!”
Aduhai Mas, apa hubungannya hampir kehujanan dan bacaan surat Imam sama apa Mas udah sholat atau belum? :”) Padahal kalau Mas udah sholat beneran, pertanyaan ini ‘kan hanya tinggal dijawab dengan simpel: “Udah, Sayang, sama anak-anak kantor.” Selesai!


6. Seorang pembohong tidak akan tersenyum dengan matanya

Mata seorang pembohong tidak ikut tersenyum
Mata seorang pembohong tidak ikut tersenyum via www.huffingtonpost.com
Ketika berbohong, lawan bicaramu mungkin akan menyunggingkan senyum agar terlihat lebih meyakinkan. Untuk itu, kamu harus bisa membedakan senyum asli dan senyum palsu.
Seseorang yang benar-benar tersenyum akan tersenyum dengan matanya. Dari pandangannya, kamu bisa melihat usahanya untuk menjadi hangat. Jika matanya dingin, kamu perlu mengecek apakah senyumnya memang tulus. Bedakan juga senyum yang tulus dengan sengiran yang sinis atau merendahkan.


7. Meski cara bicara si pembohong terdengar layak dipercaya, gesturnya menyiratkan keengganan bekerjasama

Jadilah pendengar yang baik
Gesturnya menyiratkan keengganan bekerjasama via www.bet.com
Mungkin lawan bicaramu adalah pembohong ulung. Dia mampu tersenyum dengan matanya, mengontrol nada bicaranya agar tak terdengar panik, dan mengatur kalimatnya supaya tetap sederhana dan rapi.
Tapi, seorang pembohong tetap akan mengelak ketika kamu mengajaknya bekerja sama. Contoh:
“Sabtu besok ke kampus yuk, bantuin anak-anak bikin paper replika buat fundraising.”
“Jam berapa? Aku Sabtu pagi harus ngajar.”
“Siang-siang kok, sekitar jam 12.”
“Sabtu siang aku harus nemenin Ibu beli batik.”
“Yaudah deh. Malem ini aja temenin aku beli bahan-bahan paper replika, gimana?”
“Hmm… Insya Allah ya? Nanti aku kabarin lagi…”
Seseorang yang jujur akan selalu bersikap terbuka terhadapmu. Jika memang tidak bisa mengiyakan ajakanmu, mereka akan menawarkan alternatif tanggal. Tentu ini berbeda dengan orang yang memang tidak mau dan menutupinya dengan berbagai alasan.

Semoga setelah membaca ini kamu jadi bisa lebih baik dalam mendeteksi kebohongan. Jangan malah dipakai untuk melatih kemampuan berbohongmu, ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar